SeputarNKRI | Politik - Majelis hakim dan terdakwa kasus dugaan penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok tertawa terpingkal-pingkal saat seorang bernama Suyanto bersaksi di ruang sidang.

Suyanto dikenal sebagai mantan sopir Ahok. Suyanto menjadi saksi meringankan Ahok dalam kasus dugaan penodaan agama.
Tingkah Suyanto yang polos tak jarang membuat hakim, Ahok, penasihat hukum, jaksa penuntut umum, hingga pengunjung sidang tertawa. Berawal saat Ketua Majelis Hakim Dwiarso Budi Santiarto mempertanyakan Ahok kepada Suyanto.
“Anda kenal terdakwa?” tanya Dwiarso. “Kenal,” jawab Suyanto.
“Yang mana?” tanya Dwiarso lagi.
Kemudian Suyanto menunjuk tangan ke arah Ahok.
“Yang mana? Yang mana?” tanya Dwiarso.
“Pak Basuki Tjahaja Purnama,” jawab Suyanto.
“Iya yang mana?” tanya Dwiarso lagi yang memecah keheningan suasana persidangan.
“Yang pakai batik, Pak,” kata Suyanto. “Nah benar. Kan banyak itu orangnya di sana,” kata Dwiarso yang mengundang gelak tawa pengunjung persidangan.
Kemudian pengunjung persidangan kembali tertawa mendengar Suyanto yang terbata-bata menirukan sumpah yang diucapkan Dwiarso. Suyanto harus mengulang mengucap sumpah beberapa kali.
Gelak tawa kembali pecah ketika Dwiarso mempertanyakan sikap Ahok terhadap Suyanto.
Dwiarso menanyakan, apakah Ahok pernah memarahi Suyanto.Kemudian Suyanto menjawab dirinya tak pernah dimarahi oleh Ahok. Dwiarso tersenyum dan bertanya mengenai sikap Ahok yang kerap marah dan menjadi pemberitaan.
“Saudara pernah lihat TV yang ada berita terdakwa (marah-marah)?” tanya Dwiarso.
“Enggak pernah nonton televisi. Di rumah, saya punya anak dan tv nya untuk nonton film anak saya,” kata Suyanto yang membuat gelak tawa pengunjung.
“Nonton video di Youtube?” tanya Dwiarso. “Saya enggak bisa main Youtube,” jawab Suyanto.
Terakhir, saat persidangan sudah selesai, Suyanto kembali membuat gelak tawa. Dengan tangan kiri memegang siku kanan dan badan menunduk, Suyanto menyalami satu persatu anggota majelis hakim.
Dia juga menyalami anggota jaksa penuntut umum yang duduk di barisan paling depan. Kemudian dia menghampiri Ahok yang telah berdiri untuk menyambut salamnya. Barulah dia menyalami penasehat hukum.
Sebelum keluar dari ruang sidang, Suyanto sempat menundukkan badannya kembali ke arah majelis hakim, jaksa penuntut umum, penasihat hukum, dan penonton sidang. Lagi-lagi, aksinya tersebut membuat suasana ruang sidang menjadi cair.
Para pengunjung sidang, baik yang berasal dari pro Ahok maupun kontra Ahok terlihat tertawa melihat tingkah Suyanto. Seorang penasihat hukum kemudian membawa Suyanto keluar ruang sidang.
Ahok Baik
Suyanto (45) berjanji akan terus mendukung Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang menjadi terdakwa penistaan agama. Suyanto yang kini bekerja serabutan di Belitung Timur mengatakan Ahok adalah sosok yang baik dan tidak pernah bermasalah dengan masyarakat di Belitung Timur.
“Orang itu cukup baik, dengan masyarakat Belitung Timur enggak ada masalah. Jadi beliau sampai dimanapun kalau ada urusan kayak gini, biar saya enggak kerja sama beliau, saya tetap mau dukung beliau,” kata Suyanto.
Suyanto mengatakan apabila diperlukan, Suyanto siap mendukung Ahok dan tidak pernah takut.
Suyanto yang sudah menganggap Ahok sebagai teman mengaku sedih Ahok jadi terdakwa penistaan agama.
“Apabila beliau perlukan saya akan dukung. Titik darah terakhir kalau perlu saya sedia korbanin,” kata dia.
Suyanto mengenal saat Basuki masih lajang karena menjadi caddy saat Basuki bermain tenis mulai 1989. Suyanto kemudian menjadi sopir di perusahaan milik Ahok, PT Nurindra Eka Persada.
Pada 2003, Suyanto memilih keluar dari perusahaan tanpa bersedia mengungkapkan alasan pengunduran dirinya.
Walau demikian, Suyanto hingga kini masih menjadi sopir freelance keluarga Basuki jika pulang ke Belitung Timur.
Teman SD Ahok
Selain Suyanto sang sopir, Teguh Samudra, pengacara terdakwa kasus dugaan penodaan agama Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok mengatakan dalam sidang keempatbelas pihaknya menghadirkan dua saksi fakta lainnya.
Saksi tersebut merupakan orang yang kenal dengan Ahok sejak kecil. Mereka adalah Juhri dan Fajrun,
keduanya adalah teman Ahok sewaktu sekolah.
Teguh menuturkan, para saksi tersebut dihadirkan untuk memberikan keterangan di depan majelis hakim bahwa Ahok tidak berniat untuk menodai agama Islam.
Sebab, sejak kecil Ahok tinggal di lingkungan mayoritas pemeluk agama Islam.
“Sehingga jangan sampai dianggap melakukan penodaan agama, padahal sejak awal dia sudah ada panduan dalam kehidupannya,” ucap Teguh.
Juhri merupakan pegawai negeri sipil (PNS) Kabupaten Belitung, Provinsi Bangka Belitung. Fajrun, teman SD Ahok dari Dusun Lenggang.
Dalam kesaksian Fajrun menilai Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai sosok yang sederhana.Fajrun mengaku ketika ada pemilihan Bupati Belitung Timur, dirinya lebih memilih Ahok, ketimbang Abdul Fattah kakak kandungnya yang juga mencalonkan diri.
Hati nuraninya lebih memilih Ahok.
“Abdul Fattah abang kandung saya. Dia ikut jadi calon bupati. Saya milih karena hati nurani saya begitu. Saya memilih Ahok karena Dia bisa memberantas korupsi. Karena dia anti korupsi,” kata Fajrun.
Tak cuma itu, menurutnya Ahok bukanlah sosok yang membeda-bedakan siapa pun.
“Sangat sederhana, dari kecil hingga sekarang dia sangat sosial. Kalau pun Idul Fitri, beliau silaturahmi juga. Kalau Natal, muslim juga silaturahmi ke rumah beliau,” katanya.
Ahok juga sangat perhatian terhadap umat muslim. Fajrun menilai sikap Ahok itu merupakan turunan dari ayah Ahok.
“Orangtua almarhum sama persis dengan Ahok yaitu sama sosialnya. Sosial sangat tinggi, tidak beda jauh dengan Ahok,” katanya.
SeputarNKRI Berita hangat seputar Politik dan Ekonomi di Indonesia

Leave a Reply
Be the First to Comment!